4 Cara Mengendalikan Ulat Gerayak pada Tanaman Kedelai

Masalah dalam menanam Kedelai adalah rentannya terhadap ulat gerayak atau tanaman tersebut memberikan saya tarik lebih terhadap ulat grayak, sehingga menjadi anomali hampir dipetani kedelai mengeluhkan hal yang sama dimana biji kedelai rusak dimakan ulat, dan salah satu ulat itu adlalah ulat gerayak.

Ada 111 jenis serangga hama kedelai di Indonesia (Okada et al. 1988), di antaranya ulat grayak Spodoptera litura. Hama pemakan daun ini berstatus penting karena dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%, bahkan tanaman puso bila tidak dikendalikan (Marwoto dan Suharsono 2008). Luas serangan ulat grayak dalam periode 2002-2006 berkisar antara 1.316-2.902 ha (Ditlintan 2008).

Tentang ulat Gerayak

Perkembangan ulat grayak bersifat meta-
morfosis sempurna. Setelah telur menetas, ulat tinggal sementara di tempat telurdiletakkan. Beberapa hari kemudian, ulat berpencar. Stadium ulat terdiri atas enam instar yang berlangsung 14 hari. Ulat berkepompong di dalam tanah.

Ngengat meletakkan telur secara berkelompok. Produksi telur rata-rata 1.413 butir/ekor. Daur hidup dari telur ke telur 28 hari, sedangkan panjang hidup dari telur hingga ngengat mati 36 hari (Arifin 1991b, 1993).

Ulat Grayak pada Tanaman:
Ulat grayak bersifat polifag dari berbagai jenis tanaman pangan, tanaman industri, dan hortikultura. Kemampuan makannya besar. Selama periode ulat instar VI yang berlangsung 3-4 hari, dua ekor ulat
mampu menghabiskan sebatang tanaman kedelai stadium vegetatif akhir dan 10 ekor ulat mampu menghabiskan sebatang tanaman stadium pembentukan polong (Arifin 1989, 1993).

Hubungan:
Kerusakan dan kehilangan hasil karena ulat grayak ditentukan oleh populasi, stadia serangga, stadia tanaman, dan tingkat kerentanan varietas kedelai. Hubungan antara populasi ulat dan kehilangan hasil dinyatakan dengan kurva nonlinier asimptotik (Arifin 1994). Kurva tersebut memiliki tipe gabungan kompensasi,linieritas, dan desensitisasi. Ini berarti tanaman kedelai mampu mengkompensasi kerusakan daun (Pedigo et al. 1986).

Ada beberapa teknik pengendalian ulat gerayak yang dapat digunakan secara terpadu untuk menurunkan status hama ulat grayak, yakni:

1. Pengendalian dengan teknik budi daya.
yaitu mensiasati ulat grayak tersebut dengan mencampur antara tanaman yang rentan diserang dan tidak, misalnya:
  • Menggilir tanaman kedelai dengan jagung atau padi (Leslie dan Cuperus 1993);
  • Menanam kedelai dan jagung secara berselang-seling pada petak berbeda (Leslie dan Cuperus 1993);
  • Menanam kedelai varietas Ijen yang toleran terhadap serangan ulat grayak (Balitkabi 2008); dan
  • Menanam varietas Dieng sebagai tanaman perangkap (Tengkano et al. 1997).
2. Pengendalian hayati,
 yaitu menghadirkan predator bagi ulat grayak tersebut. misalnya:

  • Mengkonservasi parasitoid Snellenius manila (Arifin 1991a) dan predator Lycosa pseudoannulata (Arifin 2005); dan 
  • Memperbanyak dan melepas patogen serangga (virus Boreli- navirus litura) (Arifin 2002), bakteri Bacillus thuringiensis (Bahagiawati 2002), cendawan Metarhizium ani- sopliae (Prayogo et al. 2005), dan nematoda Steinernema capsocapsae (Chaerani dan Suryadi 1999).

3. Pengendalian mekanis dan fisik,
yaitu melakukan upaya penghilangan atau pemusnahan terhadap ulat grayak dengan cara misalnya:
  • Mengumpulkan dan membinasakan kelompok telur dan ulat; dan
  • Menggenangi lahan untuk mematikan ulat grayak yang ada di dalam tanah.
4. Pengendalian dengan insektisida kimia yaitu, merupakan langkah terakhir, sebagai pilihan terakhir bila populasi ulat grayak telah melampaui AE.


Refrensi
Muhammad Arifin. 2012. BIOINSEKTISIDA SlNPV UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK MENDUKUNG SWASEMBADAKEDELAI. Bogor: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Posting Komentar