8 Cara Mengatasi Penyakit Hawar Daun Tanaman Padi dan Jagung, Varietas Tahan dan Pestisida

Penyakit Hawar Daun dan  Kresek pada tanaman padi disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Serangan bakteri ini mulai terjadi pada fase vegetatif awal (1-6 minggu setelah tanam) menyebabkan tanaman menjadi layu dan mati, gejala pada fase awal ini disebut penyakit kresek, gejalanya sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang. Serangan bakteri ini juga terjadi pada fase gernatif kemudian populer dikenal sebagai hawar daun (blight). 

Penyakit dari bakteri ini yang paling unum menyerang tanaman Padi dan Jagung. Pola serangan bakteri hawar daun ini dimulai dari tepi daun, keabu-abuan lalu menjadi kering, kemudian Bagian kering ini meluas ke arah tulang daun sampai seluruh daun menjadi mengering.

Faktor pendukung perkembangan penyakit kresek dan hawar daun
  • Benih padi yang kurang sehat, membawa penyakit.
  • Faktor musim, pergantian musim seperti musim hujan menyebabkan kelembaban tinggi sehinhha membuat bakteri penyebab hawar daun berkembang lebih cepat
  • Management irigasi dan sanitasi yang buruk, menciptakan kelembaban terus-menerus serta banyaknya tumbuhan liar menyebabkan bakteri patogen berkembang biak dengam cepat.
  • Unsur hara yang kurang untuk keankeragaman bakteri menguntungkan
  • Penggunaan Pupuk Nitrogen dengan dosis tinggi dan tidak diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun.


Akibat serangan penyakit hawar daun yaitu:
  • Pertumbuhan tanaman terhambat
  • Butir-butir padi kurang berisi
  • Banyak bulir hampa
  • Kualitas biji rendah
  • Persentase beras pecah tinggi

Menurut Suparyono dan Sudir (1992) Kehilangan hasil mencapai 20.6 - 35.8 % pada musim hujan, dan 17.5 - 28 % pada musim kemarau. Kerugian total akibat penyakit ini bisa mencapai 15-80%


Cara Mengatasi penyakit kresek - Hawar daun tanaman padi
  1. Karena penyakit ini mudah berkembang dengan kelembaban maka dapat menerapkan pola tanam jajar legowo
  2. Karena penyakit juga dapat menginfeksi melalui daun yang terluka, jangan potong ujung bibit.
  3. Melakukan pemupukan berimbang antara Nitrogen dan Kalium.
  4. Menggunakan pupuk organik atau hasil fermentasi, untuk memperkaya berbagai jenis bakteri menguntungkan
  5. Melakukan pembersihan lingkungan dari gulma inang dan sisa tanaman padi yang dapat menjadi tempat perlindungan bakteri penyebab penyakit ini
  6. Management irigasi yaitu dengan pengairan berselang;
  7. Menggunakan agens hayati Paenibacillus polymyxa pada benih. maupun tanaman, dan terakhir adalah
  8. Menggunakan pestisida apabila serangan sudah mencapai batas pengendalian secara ekologi-hayati.

Pengendalian Hayati untuk Penyakit Hawar Daun
Menurut Despita, dkk (2017) Hasil penelitian penanggulangan hawar daun terhadap hasil produksi menggunakan bakteri corynebacterium dan pestisida nabati menunjukkan, untuk tinggi tanaman terbaik adalah penggunaan Corynebacterium sp dan perlakuan pestisida nabati, jumlah anakan terbaik adalah penggunaan pestisida nabati, anakan produktif terbaik adalah perlakuan Corynebacterium sp.; Panjang malai, jumlah gabah, jumlah gabah bernas terbaik adalah Corynebacterium sp; produktifitas hasil ubinan terbaik adalah perlakuan Pestisida nabati, dan gabah bernas tertinggi per ha dengan perlakuan Corynebacterium sp.

Biopestisida untuk Penyakit Hawar Daun
Hasil penelitian Angela (2019) menunjukkan bahwa biofungisida trichoderma dosis 5gr/liter dapat menurunkan penyakit hawar daun dan meningkatkan hasil panen 15,25ton/ha tanaman jagung.

Menurut penelitian Djaeniddin (2018) Pada pengujian dilapangan pada tanaman jagung, penggunaan bipestisida yang di campur pestisida alami ekstrak daun cengkeh dapat menekan perkembangan penyakit hawar daun dan meningkatkan hasil panen. Aplikasi formulasi Bacillus subtilis BNt8 dapat menekan penyakit hawar daun hingga 13% dan berpotensi meningkatkan hasil panen hingga 26%.

Varietas Padi Tahan Hama hawar daun
Fb @anik wiati

10 Varietas padi yang tahan terhadap 3 tipe penotive Bakteri Hawar daun yang dilepas (2001-2013) menurut Hapsari,dkk (2016):Angke, Ciujung,Conde, Inpari, Inpari 6 Jate, Inpari 17, Inpari 11, Inpari 25 Opak Jaya
Inpari 31 dan Inpari 32.

Sedangkan Penelitian Adi dan Fatichin (2009) yang menguji 21 varietas padi, menemukan Padi varietas IR 70 adalah varietas yang paling tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Dan Varietas yang mempunyai hasil tertinggi adalah Rojolele dengan nilai bobot gabah per rumpun yaitu 31,17 g.

Seleksi ketahanan terhadap HDB yang dilakukan di Cianjur pada MT 2009 terhadap 150 varietas padi koleksi Bank Gen, BB-Biogen yang diuji isolat Xoo varian IV dan VIII, menemukan varietas yang konsisten tahan terhadao hawar daun yaitu: Varietas Pulu Bolong, Pelopor, Gombal, Barito, dan Kapuas. (Herlina dan Tiur, 2011)

Bahan aktif/ Pestisida sintsis Hawar Daun
Hasil uji efektifitas 7 bahan aktif pestisida untuk hawar daun oleh Rahmadani (2021) dengan 11 perlakuan acak, menunjukkan bahwa fungisida dengan bahan aktif Difenokonazol 250 g/l, dengan dosis pemakaian 2.0 g/l merupakan bahan aktif paling efektif untuk hawar daun dengan produksi panen tertinggi, dan tingkat keparahan penyakit yang paling rendah.


Refrensi:
  • Adi Djatmiko, Heru dan Fatichin. Ketahanan Dua Puluh Satu Varietas Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri.
  • Hapsari Wening, Rina., Untung Susanto, dan Satoto. 2009. Varietas Unggul Padi Tahan Hawar Daun Bakteri: Perakitan dan Penyebaran di Sentra Produksi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
  • Herlina, Lina dan Tiur S. Silitonga. 2011. Seleksi Lapang Ketahanan Beberapa Varietas Padi terhadap Infeksi Hawar Daun Bakteri Strain IV dan VIII. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.
  • Rahmadani Lubis, Siti. 2021. Uji Efekasi Berbagai Bahan Aktif Fungisida untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Daun Padi (Rhizotonia Solani Khun) di Kabupaten mandailing Natal. Medan: Universitas Sumatra Utara.

Posting Komentar