Cara Mengatasi Penyakit Bercak Daun Coklat pada Tanaman Padi

Bercak Daun Coklat disebabkan oleh jamur Helminthosporium sp, Bipolaris oryzae, teleomorph atau Cochliobolus miyabeanus anamorph atau oleh Drechslera oryzae merupakan jamur-jamur yang menjadi penyebab penyakit bercak coklat pada tanama padi. Jamur ini mudah berkembang biak dan cepat tersebar. Jamur ini banyak menyerang tanaman padi didaerah yang kurang subur dengan unsur hara yang kurang, Gejala penyakit ini umumnya berkaitan dengan kondisi tanah yang miskin unsur kalium (K).

Penyebaran Penyakit Bercak Daun Coklat
Menurut, Aprianto (2019) Penyebaran penyakit daun coklat dapat dimulai dati benih yang terinfeksi, disebarkan melalui angin dan atau sisa tanaman yang terserang.

Penyakit ini mudah berkembang di lahan yang drainasenya buruk dan miskin unsur hara, tetapi jarang pada lahan yang subur. Lahan-lahan marjinal, yaitu yang kandungan unsur haranya rendah atau lahan-lahan yang berada dalam keadaan tereduksi yang biasanya mengandung kandung unsur toksik (racun) yang tinggi, Suhu yang berkisar antara 25-30 oC, kelembapan yang >90% dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. Penyakit ini mulia terlihat sejak tanaman pada fase anakan maksimum sampai buah masak. 

Gejala Penyakit Bercak Daun Coklat Padi


Gejala penyakit ini bercak berwarna kecoklatan sebesar biji wijen pada daun, pelepah, dan gabah. Gejala awal dari penyakit ini dimulai dari lingkaran kecil berwarna coklat tua. Kemudian menjadi Bercak penuh berwarna coklat dengan pusat bercak berwarna keputih-putihan.

Akibatnya, Daun dengan banyak bercak menjadi layu, kering, dan mati. Mengakibatkan kehilangan hasil produksi mencapai 50- 91%.

Baca Juga: Cara Mengatasi Penyakit Blas Bercak Daun dan Batang kering Padi

Cara Mengatasi Penyakit Bercak Daun Coklat Padi
Pengendalian penyakit Bercak Daun dapat dilakukan melalui komponen epidemik, selainmenekan biaya produksi hingga 60% juga dapat mengurangi tingkat kehilangan hasil padi sampai 30%. Yaitu melakui menggunakan varietas sehat dan secara bergantian, waktu tanam, teknik pengolahan irigasi dan penggunaan pupuk organik

1. Varietas tanaman
Penyakit bercak daun dapat berasal dari benih tidak sehat, karenanya penggunaan benih sehat merupakan langkah awal. Kemudian penanaman varietas bergilir dapat menekan laju perkembangan penyakit dan berdampak terhadap keanekaragaman genetik tanaman di lapang. Sederhananya jangan tanam satu varietas secara terus menerus.

2. Pengunaan Pupuk Organik
Penggunaan pupuk orgnaik merupakan solusi bertani murah dan sehat, dengan misalnya dengan mengembalikan sisa panen padi (jerami) menjadi pupuk kompos. Bahan organik merupakan substrat bagi sebagian besar mikroorganisme tanah untuk tumbuh dan berkembang, sehingga populasinya meningkat. Tanah yang mengandung banyak bahan organik dihidupi oleh berbagai jenis mikroorganisme tanah, menyebabkan keanekaragaman populasi mikroorganisme dalam tanah meningkat. Secara alami, beberapa organisme juga meniliki peran melawan mikroorganisme patogen, termasuk patogen penyebab bercak coklat.

Proses dekomposisi bahan organik melalui komposting dengan menggunakan bakteri starter dapat meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk, meningkatkan jumlah mikroorganisme unggul dan suhu yang terbentuk selama proses pengomposan menyebabkan kondisi aerob dapat mencapai 60oC. Kondisi ini dapat mematikan telur serangga hama dan patogen yang terbawa oleh sisa tanaman sakit musim sebelumnya (Nuryanto et al. 2010)

3. Waktu Tanam
Waktu tanam hendaknya bersamaan dengan petani lainnya, umur tanaman padi di satu lokasi tidak jauh berbeda dengan di lokasi sekitarnya. Penanaman padi yang tidak serempak menjadi sumber inokulum penyakit bagi tanaman yang lebih muda, terutama penyakit yang ditularkan melalui angin atau serangga vektor. Penyakit tanaman kerdil oleh virus, gabah hampa ditularkan oleh hama wereng cokelat.

4. Pengolahan lahan dan sistem irigasi
Kebersihan lahan perlu dijaga, patogen seperti jamur dapat menjadikan tumbuhan liar sebagai perlindungan. Kemudian, Mengatur kelembaban dengan sistem pengairan yang baik, tanah yang selalu lembab dengan genangan air akan meningkatkan pertumbuhan penyakit ini. (Bambang nuryanto, 2018).

5. Penggunaan Kalium sangat dianjurkan untuk menekan penyakit ini dan meningkatkan hasil gabah. Perlakuan benih dengan kaptan, thiram, chitosan, carbendazim, atau mancozeb dapat menurunkan infeksi pada bibit. Per
Penyemprotan dengan mancozeb + tricyclazole pada satdium anakan dan bunting, juga dapat menekan penyakit ini dengan baik.

6. Fungisida yang mampu menekan perkembangan penyakit bercak daun ialah yang berbahan aktif difekonazol, tembaga oksida, dan propineb (Agus, 2013).


Refrensi:
Bambang Nuryanto. 2018.Control of Environmentally-Based Rice Disease Through the Management of Epidemic Components. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi: Subang, Jawa Barat.

Posting Komentar